PKKMB DAY 2
Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan tugas berupa resume materi PKKMB Day 1 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Berikut rangkuman dari tiga materi yang telah disampaikan oleh para narasumber:
Resume Materi 1 –
"Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri"
oleh Bapak Ainun Najib
Bapak Ainun Najib adalah seorang profesional yang kini bekerja sebagai Head of Analytics di Grab Singapura, pernah berkarier di Traveloka, IBM Singapura, dan dikenal sebagai salah satu inisiator serta co-founder Kawal Pemilu. Beliau juga pernah mengisi serial kuliah di UNUSA. Dalam PKKMB kali ini, beliau menyampaikan materi berjudul “Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri.”
Beliau menjelaskan bahwa era yang kita jalani sekarang adalah era revolusi industri baru yang ditandai dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI). AI dianggap setara dengan penemuan listrik di masa lalu karena dampaknya yang masif dan menjadi katalis perubahan besar dalam kehidupan manusia. Kehadiran AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa untuk dapat memanfaatkannya secara tepat, bukan sekadar dimudahkan olehnya.
Ainun menekankan bahwa kemampuan hafalan atau pekerjaan rutin yang tidak melibatkan kreativitas akan sepenuhnya diambil alih oleh AI. Contohnya adalah logistik, gudang, hingga transportasi yang sudah mulai diotomatisasi dengan robot dan kendaraan tanpa sopir. Namun, ada bidang lain yang masih memerlukan peran manusia, terutama yang menuntut kreativitas dan nilai kemanusiaan.
Beliau membagi pekerjaan ke dalam empat kuadran, dan menegaskan bahwa bidang yang paling aman serta menjanjikan adalah yang membutuhkan kreativitas sekaligus empati. Contoh utamanya adalah kepemimpinan, baik dalam organisasi, perusahaan, maupun negara, yang menuntut strategi, inovasi, serta compassion. Sementara itu, bidang kreatif seperti desain dapat berkolaborasi dengan AI, di mana manusia memberi ide dan arahan, sedangkan AI membantu proses teknis.
Pesan pentingnya, mahasiswa harus mengasah kemampuan berpikir kreatif, strategis, problem solving, kolaborasi dengan AI, serta membangun nilai kemanusiaan. AI bisa menguasai hafalan dan informasi, tetapi tidak bisa memiliki jiwa, empati, dan kreativitas sejati. Karena itu, keterampilan manusia akan bergeser dari sekadar menghafal menuju kemampuan berkolaborasi dengan AI untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sebagai penutup, beliau menyampaikan lima prinsip yang perlu dipegang mahasiswa dalam menghadapi era AI: bijak menggunakan teknologi, terus belajar, berkolaborasi dengan AI, menjaga nilai kemanusiaan, serta mengembangkan kreativitas. Dengan itu, mahasiswa akan lebih siap menghadapi perubahan besar di era digital dan revolusi industri.
Resume Materi 2 –
"Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi"
oleh Dr. Nurul Ghufron, S.H., M.H.
Dr. Nurul Ghufron merupakan seorang tokoh yang aktif dalam pemberantasan korupsi. Ia pernah menulis opini di berbagai media, meneliti tentang optimalisasi sistem peradilan pidana dalam pemberantasan korupsi (2004, Pascasarjana Universitas Jember), serta terlibat dalam penerapan sistem manajemen anti-suap ISO 37001. Dengan latar belakang tersebut, beliau dipercaya mengisi materi tentang Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi dalam PKKMB UNUSA.
Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa mahasiswa UNUSA sedang berada di jalan yang benar karena tidak hanya mencari ilmu dunia, tetapi juga membekali diri dengan nilai spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, salah satu penyebab orang terjerumus dalam korupsi adalah kecintaan berlebihan pada dunia dan ketidakpuasan terhadap harta. Oleh karena itu, ilmu seharusnya dijadikan sarana untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar alat untuk mengejar materi.
Beliau kemudian menjelaskan dampak luas korupsi. Pertama, korupsi merusak hukum karena aturan dapat dipelintir dengan suap atau pemerasan. Kedua, korupsi menurunkan kualitas sumber daya manusia dan merusak lingkungan, misalnya ketika izin AMDAL atau UKL-UPL disalahgunakan. Ketiga, korupsi merusak pasar dan membuat ekonomi menjadi inefisien karena pengadaan barang dan jasa tidak lagi didasarkan pada kualitas atau harga terbaik, melainkan pada suap dan gratifikasi. Selain itu, korupsi juga melanggar hak asasi manusia, memicu tindak pidana lain seperti pencucian uang, serta melemahkan kepercayaan masyarakat pada negara.
Beliau menjabarkan berbagai bentuk tindak pidana korupsi, mulai dari suap, pemerasan, gratifikasi, penipuan (fraud), konflik kepentingan, hingga tindakan menghalangi proses hukum. Fakta menunjukkan bahwa hingga kini praktik korupsi masih merata di seluruh Indonesia, baik di pusat maupun daerah, di berbagai sektor mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga pertahanan dan keamanan. Hal ini membuktikan bahwa korupsi telah menjadi masalah sistemik yang meluas.
Menurut beliau, bangsa Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat kekurangan orang jujur. Banyak koruptor justru merupakan lulusan perguruan tinggi dengan pendidikan tinggi, namun gagal menjaga integritas. Beliau menegaskan bahwa kecerdasan, keahlian, dan prestasi akademik tanpa kejujuran bagaikan angka nol tanpa angka satu di depannya tidak bernilai. Karena itu, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga berintegritas, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
Beliau menutup dengan pesan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup hanya melalui penindakan, melainkan juga melalui pendidikan dan pembentukan karakter. UNUSA diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berintegritas, sehingga dapat membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik dan bebas dari korupsi.
Resume Materi 3 –
"Mahasiswa UNUSA Sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah"
oleh KH. Ma’ruf Khozin
KH. Ma’ruf Khozin adalah Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur. Beliau menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Raudlotul Ulum Malang, Pondok Pesantren Alfalah Ploso Kediri, dan pendidikan formal di Universitas Sunan Giri Surabaya. Dalam materi PKKMB ini, beliau membahas peran mahasiswa UNUSA sebagai generasi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah.
Beliau menjelaskan bahwa istilah sunnah memiliki banyak disiplin ilmu: dalam hadis, fiqih, maupun akidah. Namun dalam NU, sunnah dimaknai sebagai thariqah al-mardhiyyah al-maslukan fit din, yaitu cara beragama yang telah ditempuh oleh Nabi Muhammad, para sahabat, dan para imam. Pemahaman ini berbeda dengan kelompok lain yang menafsirkan sunnah hanya sebatas perbuatan atau hukum tertentu. NU menegaskan bahwa Aswaja adalah metode beragama yang diwarisi mayoritas umat Islam (aswadul a’zham) melalui empat mazhab besar: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Ciri khas NU adalah berpegang pada mazhab. Jika mengaku Ahlussunnah namun menolak mazhab, maka itu bukan karakter NU. Dalam akidah, NU mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari. Dalam praktik keagamaan, tradisi NU ditandai dengan kecintaan terhadap ziarah kubur, shalawat, tahlilan, dan sedekah (berkat). Semua amalan tersebut memiliki dasar dalil dan bersumber dari ulama salaf, sehingga tidak perlu diragukan. Namun, beliau menekankan agar mahasiswa selama kuliah lebih fokus belajar, berdiskusi, dan ke perpustakaan, sementara amalan seperti ziarah kubur dapat dilakukan setelah lulus.
Beliau juga menegaskan pentingnya mahasiswa NU menguasai bacaan tahlil dan tradisi keagamaan masyarakat, karena hal itu akan berguna saat mereka menjadi pemimpin di masyarakat, misalnya sebagai tokoh RT, RW, atau pemimpin komunitas. Tradisi seperti tahlil dan sedekah (berkat) bukan sekadar budaya, melainkan bagian dari syiar Islam yang diajarkan Nabi.
Dalam sesi diskusi, KH. Ma’ruf Khozin juga menyinggung sikap NU terhadap pemerintah. Menurutnya, NU memiliki mekanisme dalam memberi nasihat kepada pemimpin, yakni tidak dengan cara konfrontasi terbuka, melainkan melalui jalur musyawarah dan pertemuan langsung dengan para kiai sepuh. Hal ini bertujuan menjaga stabilitas bangsa, mengingat NU memiliki massa besar yang bila digerakkan secara frontal dapat mengguncang negara. Dengan demikian, NU tetap kritis namun mengedepankan maslahat dan kemaslahatan umat.
Sebagai penutup, beliau berpesan agar mahasiswa UNUSA senantiasa menjaga identitas sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah. Hal itu diwujudkan dengan berpegang pada ajaran ulama salaf, melestarikan tradisi NU, menjaga akhlak, dan berkontribusi aktif di tengah masyarakat. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berakar kuat dalam tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Wassalammualaikum wr.wb
Lihat Blog Teman Saya: 1. Risa
2. Lisda

Komentar
Posting Komentar