PKKMB DAY 1
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan tugas berupa resume materi PKKMB Day 1 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Berikut rangkuman dari tiga materi yang telah disampaikan oleh para narasumber:
Resume Materi 1 –
“Kehidupan Berbangsa dan Bernegara: Jati Diri Bangsa dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara”
Oleh Bapak Yudi Latif, M.A.
Bapak Yudi Latif menjelaskan bahwa setiap kehormatan yang dimiliki oleh suatu bangsa selalu disertai tanggung jawab besar. Saat ini banyak orang mengejar jabatan, status, dan kehormatan, tetapi enggan memikul tanggung jawabnya. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik merupakan bagian dari kalangan terhormat dan memiliki kewajiban moral untuk menjaga kehormatan itu.
Beliau menegaskan bahwa Indonesia sejak awal telah menunjukkan keberanian luar biasa, menjadi salah satu negara pertama di dunia yang memproklamasikan kemerdekaan secara mandiri melalui perjuangan sendiri, bukan pemberian penjajah. Perjuangan bangsa Indonesia bahkan menjadi inspirasi bagi gerakan dekolonisasi di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Konferensi Asia Afrika di Bandung kemudian menjadi momentum penting yang mengubah wajah dunia dengan membangun solidaritas bangsa-bangsa terjajah.
Dalam kehidupan berbangsa, semboyan Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang memperkaya persatuan. Keragaman etnis, agama, dan budaya harus dipandang sebagai kekuatan layaknya ekosistem yang semakin sehat ketika beragam. Namun, agar keragaman menjadi perekat, diperlukan nilai integritas sebagai fondasi etika bersama. Tanpa integritas, bangsa akan kehilangan saling percaya dan mudah terjebak dalam konflik.
Nilai ketuhanan juga harus benar-benar diinternalisasikan dalam kehidupan publik, bukan sekadar simbol keberagamaan. Banyak rumah ibadah berdiri megah, tetapi perilaku sosial tidak mencerminkan sifat-sifat ilahi karena masih marak korupsi, ketidakadilan, dan diskriminasi. Oleh sebab itu, sila Ketuhanan dan Kemanusiaan harus diwujudkan dalam sikap adil, beradab, dan peduli pada sesama manusia maupun alam.
Persatuan Indonesia bukan hanya menyatukan seluruh rakyat, tetapi juga meneguhkan cinta tanah air dan kepedulian pada lingkungan. Kerusakan hutan, tata ruang yang buruk, dan pemanasan global adalah akibat tangan manusia. Maka, menjaga alam adalah bagian dari iman sekaligus amanah sebagai khalifah di bumi.
Selanjutnya, kesejahteraan rakyat harus diperhatikan secara menyeluruh: pangan, sandang, papan, kesehatan, dan juga kebutuhan spiritual. Orang lapar harus dipenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu sebelum diajak toleransi. Namun, kesejahteraan material saja tidak cukup, karena negara maju dengan pendapatan tinggi pun bisa menghadapi krisis rohani.
Selain itu, setiap manusia diberi anugerah kecerdasan yang berbeda—matematika, bahasa, musik, politik, dan lain-lain—yang bila dikembangkan optimal dapat menjadi kontribusi nyata bagi bangsa. Karena itu, pendidikan harus membuka ruang bagi semua kecerdasan agar setiap orang bisa menjadi versi terbaik dirinya.
Terakhir, mahasiswa sebagai kaum intelektual dituntut untuk kritis terhadap kebijakan pemerintah, namun harus membedakan antara sikap kritis dengan tindakan barbar yang merugikan rakyat. Kritik adalah tanggung jawab moral untuk memperbaiki bangsa, sedangkan barbarisme justru menghancurkan milik publik.
Resume Materi 2 –
"Pengelolaan Literasi Keuangan"
oleh Bapak Erisandy Yudhistira Herlambang
Bapak Erisandy, yang saat ini menjabat sebagai Priority Banking Manager di Bank Mandiri Prioritas Surabaya, menekankan pentingnya literasi keuangan, khususnya bagi mahasiswa sebagai generasi muda dan calon penerus bangsa.
Beliau menjelaskan bahwa di era digital saat ini, kebutuhan konsumsi semakin mudah dipenuhi hanya dengan satu klik. Hal ini menjadi peluang sekaligus ancaman, karena tanpa pengelolaan yang baik, seseorang bisa terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
Salah satu masalah besar di Indonesia adalah banyaknya pensiunan yang tidak memiliki persiapan finansial matang. Berdasarkan survei, sekitar 39,6% pensiunan masih bergantung pada anak/menantu, dan 38,2% bertahan dari hasil bekerja atau usaha kecil. Artinya, sebagian besar masyarakat belum mandiri secara finansial setelah pensiun. Padahal, dengan usia pensiun rata-rata 55–56 tahun dan harapan hidup 75 tahun, ada sekitar 20 tahun kehidupan yang harus dijalani tanpa penghasilan tetap.
Karena itu, sejak muda penting untuk menyiapkan diri dengan menabung dan berinvestasi. Beliau membagikan pengalaman pribadi, yaitu setiap kali menerima gaji pertama, sebagian uang harus “dibuang” ke dua hal: kewajiban (zakat, infak, sedekah) dan tabungan atau investasi. Tabungan ini bisa dialokasikan untuk dana darurat, membantu orang tua, atau kebutuhan di masa depan.
Beliau menegaskan bahwa tujuan utama menabung dan berinvestasi adalah menghadapi inflasi, yaitu kenaikan harga barang secara terus-menerus yang membuat nilai uang menurun dari waktu ke waktu. Contoh sederhana, harga minuman Teh Botol yang dulu hanya Rp300 kini bisa mencapai lebih dari Rp5.000. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menyimpan uang dalam bentuk investasi agar nilainya tidak habis tergerus inflasi.
Selain itu, beliau memperkenalkan konsep siklus finansial kehidupan:
1. Usia 0–23 tahun → fase ketergantungan finansial (bergantung pada orang tua).
2. Usia 23–35 tahun → fase pembelajaran finansial (mulai bekerja, menikah, memiliki anak, belajar mengatur keuangan).
3. Usia produktif selanjutnya → fase kemapanan finansial (penghasilan lebih stabil, harus menyiapkan dana pensiun).
4. Usia pensiun → fase tanpa penghasilan tetap, sehingga perlu bekal investasi sejak muda.
Intinya, mahasiswa harus mulai membiasakan diri menabung, berinvestasi, serta mengelola keuangan secara bijak. Literasi keuangan tidak hanya bermanfaat untuk masa kini, tetapi juga menentukan kualitas hidup setelah pensiun.
Resume Materi 3 –
"Berpikir Kreatif dan Berani Gagal"
oleh Dr. Pulung Siswantara
Pak Pulung membuka materi dengan menekankan bahwa perubahan adalah hal nyata, contohnya kegiatan ospek yang kini bisa dilakukan secara online. Kreativitas diperlukan agar manusia mampu menghadapi perubahan dan tidak tertinggal.
Beliau mencontohkan pengalamannya di Filipina. Masyarakat di sana menyebut musim panas bukan sebagai kemarau yang identik dengan penderitaan, melainkan summer yang diasosiasikan dengan liburan dan kebahagiaan. Padahal kondisi alam sama saja, hanya cara memandang yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif dapat mengubah persepsi sehingga menghasilkan sikap positif.
Lebih lanjut, kreativitas selalu lahir dari keberanian menghadapi tantangan. Contohnya munculnya layanan transportasi online (Gojek, Grab, dsb.) yang lahir dari masalah nyata: masyarakat malas keluar rumah dan angka pengangguran tinggi. Dari situ, peluang diciptakan dengan memanfaatkan teknologi aplikasi. Inovasi ini pada awalnya ditentang, namun justru berhasil mengubah pola hidup masyarakat.
Selain itu, Indonesia sebenarnya memiliki banyak praktik kreatif sejak lama, seperti simpitan (menabung beras sedikit demi sedikit untuk kepentingan sosial) atau padasan (tempat cuci tangan tradisional di depan rumah). Sayangnya, hal-hal sederhana ini sering dipandang kuno dan tidak dikembangkan, padahal bisa menjadi inspirasi inovasi modern.
Pak Pulung juga menekankan pentingnya literasi dan sikap kritis. Berbicara banyak tanpa dasar hanya menghasilkan omong kosong, sedangkan bicara dengan landasan pengetahuan adalah bagian dari berpikir kritis. Generasi sekarang cenderung mencari jawaban instan (misalnya lewat TikTok), padahal literasi sejati memerlukan kesabaran membaca, mencari sumber, dan menganalisis.
Akhirnya, beliau menegaskan bahwa orang-orang kreatif dan kritis selalu memegang peran penting dalam perubahan dunia. Karena itu, mahasiswa harus berani mencoba hal baru, tidak takut gagal, dan selalu mengasah pengetahuan agar kreativitasnya bermanfaat bagi masyarakat.
Lihat Juga Blog Teman saya: 1. Risa
2. Rahmadhani
Wassalammualaikum wr.wb

Komentar
Posting Komentar